Sapulete, Altagratya Mery (2026) STRATEGI KESEHATAN MENTAL DALAM PEMENUHAN SDGs KE-3: STUDI KASUS PENANGANAN KESEHATAN MENTAL DI VIETNAM PERIODE 2015-2025. S1 thesis, Universitas Kristen Indonesia.
|
Text (Hal_Judul_Daftar_isi_Daftar_Gambar_Daftar_Tabel_Daftar_lampiran_Abstrak)
HalJudulDaftarisiDaftarGambarDaftarTabelDaftarlampiranAbstrak.pdf Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial Share Alike. Download (1MB) |
|
|
Text (BAB_I)
BABI.pdf Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial Share Alike. Download (458kB) |
|
|
Text (BAB_II)
BABII.pdf Restricted to Registered users only Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial Share Alike. Download (1MB) |
|
|
Text (BAB_III)
BABIII.pdf Restricted to Registered users only Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial Share Alike. Download (728kB) |
|
|
Text (BAB_IV)
BABIV.pdf Restricted to Registered users only Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial Share Alike. Download (1MB) |
|
|
Text (BAB_V)
BABV.pdf Restricted to Registered users only Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial Share Alike. Download (297kB) |
|
|
Text (Daftar_Pustaka)
DaftarPustaka.pdf Available under License Creative Commons Attribution Non-commercial Share Alike. Download (453kB) |
Abstract
Kesehatan mental merupakan salah satu agenda penting dalam kerangka SDGs, khususnya target 3.4 yang mendorong pengurangan kematian akibat penyakit tidak menular dan peningkatan kesejahteraan jiwa. Vietnam menghadapi beban yang cukup berat: sekitar 15% penduduknya membutuhkan layanan kesehatan mental, dengan treatment gap mencapai 80%, tenaga profesional yang sangat terbatas, dan stigma sosial yang masih mengakar. Dibandingkan negara-negara seperti Jepang, Singapura, dan Thailand yang telah memiliki legislasi kesehatan mental khusus serta alokasi anggaran lebih besar, Vietnam memiliki keunikan tersendiri karena mengandalkan pendekatan berbasis komunitas dan kemitraan internasional sebagai strategi utamanya, meski dengan anggaran hanya 2,1% dari total belanja kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pemerintah Vietnam dalam pemenuhan SDGs ke-3 di bidang kesehatan mental sepanjang 2015–2025, termasuk menilai sejauh mana implementasinya merupakan komitmen murni atau adaptasi pragmatis demi memperoleh dukungan ODA dari lembaga internasional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan teknik analisis data melalui coding tematik. Global Health Governance Theory dari Ilona Kickbusch dipakai untuk melihat bagaimana tekanan dan norma global mempengaruhi arah kebijakan Vietnam. Health Policy Triangle Theory dari Walt dan Gilson digunakan untuk mengurai dinamika kebijakan dari sisi konten, konteks, aktor, dan proses. Sementara konsep Sustainable Development menjadi acuan untuk menilai sejauh mana capaian Vietnam sesuai dengan standar pembangunan berkelanjutan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, mengandalkan data sekunder dari dokumen kebijakan, laporan WHO, dan berbagai publikasi ilmiah, kemudian dianalisis menggunakan coding tematik mengacu pada model analisis Miles, Huberman, dan Saldaña (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Vietnam telah memiliki Strategi Kesehatan Mental Nasional 2015–2025 yang cukup ambisius, mencakup perluasan akses layanan, penguatan SDM, integrasi ke fasilitas primer, kampanye melawan stigma, serta kemitraan dengan WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Vietnam telah membangun Strategi Kesehatan Mental Nasional 2015–2025 yang mencakup empat pilar utama: penguatan regulasi dan tata kelola, integrasi ke sistem kesehatan primer, pengembangan sumber daya, serta kolaborasi dengan aktor internasional. Namun implementasinya masih menghadapi hambatan nyata, antara lain anggaran yang hanya 2,1% dari total belanja kesehatan, rasio psikiater yang sangat rendah, akses terbatas di wilayah terpencil, serta kelompok lansia yang belum cukup terwakili dalam program layanan. Treatment gap yang masih mencapai 80% menunjukkan bahwa kemajuan yang ada belum cukup untuk menyebut Vietnam berhasil memenuhi target SDGs ke-3 secara penuh. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi pemahaman tentang tantangan implementasi kebijakan kesehatan mental di negara berkembang, sekaligus menjadi bahan refleksi kritis tentang batas antara komitmen yang tulus dan adaptasi pragmatis terhadap tekanan normatif global./Mental health has become one of the important agendas within the SDGs framework, particularly Target 3.4, which promotes the reduction of mortality from non-communicable diseases while improving mental well-being. Vietnam, as a developing country in Southeast Asia, faces a considerable burden: approximately 15% of its population requires mental health services, yet the treatment gap remains at 80%, professional personnel are severely limited, and social stigma remains deeply rooted. This study aims to analyze the strategies implemented by the Vietnamese government throughout 2015–2025 in its efforts to meet this target, examining national policies, program implementation, and critically assessing whether Vietnam's commitments reflect genuine policy reform or pragmatic adaptation to obtain international ODA support. Unlike neighboring countries such as Japan, Singapore, and Thailand which have dedicated mental health legislation and larger budget allocations, Vietnam relies primarily on community-based approaches and international partnerships despite allocating only 2.1% of total health expenditure to mental health. To address these issues, the study employs three theoretical frameworks. Global Health Governance Theory by Ilona Kickbusch is used to examine how global pressures and norms influence the direction of Vietnam's policies. The Health Policy Triangle Theory by Walt and Gilson is applied to analyze policy dynamics in terms of content, context, actors, and process. Meanwhile, the concept of Sustainable Development serves as a reference to assess the extent to which Vietnam's achievements align with sustainable development standards. The method employed is qualitative with a case study approach, relying on secondary data from policy documents, WHO reports, and various academic publications, analyzed using the Miles–Huberman–Saldaña analytical technique. The findings indicate that Vietnam has developed a National Mental Health Strategy 2015–2025 built around four pillars: institutional strengthening through regulation, structural integration into primary healthcare, capacity building, and collaborative strategies with international actors. However, implementation remains significantly hampered. The treatment gap stands at 80%, budget allocation is only 2.1% of total health expenditure, the psychiatrist ratio is critically low, and elderly populations remain underserved. The persistent treatment gap raises questions about whether Vietnam’s progress is sufficient to claim success under SDG 3 benchmarks, and whether its commitments reflect genuine reform or pragmatic adaptation for ODA access. This research contributes a critical, evidence-based assessment of mental health policy implementation in a developing country, highlighting the tension between global normative commitments and domestic capacity constraints.
| Item Type: | Thesis (S1) | ||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Contributors: |
|
||||||||
| Subjects: | POLITICAL SCIENCE | ||||||||
| Divisions: | FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK > Ilmu Hubungan Internasional | ||||||||
| Depositing User: | Ms Altagratya Mery Sapulete | ||||||||
| Date Deposited: | 25 Jul 2026 02:33 | ||||||||
| Last Modified: | 25 Jul 2026 02:33 | ||||||||
| URI: | http://repository.uki.ac.id/id/eprint/22970 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
